Rabu, 29 Januari 2014

Mencintai Apa Adanya

  

"Jika sekarang Anda memiliki seorang yang sangat dicintai, ingatlah selalu kebaikannya, sayangilah segalanya, agar segala perasaan yang  indah menjadi nyata."
Tahun itu dia mendadak muncul, Xiao Cien namanya. Tampangnya tidak  seberapa. Di bawah dukungan teman sekamar, dengan memaksakan diri aku  bersahabat dengan dia. Secara perlahan, aku mendapati bahwa dia  adalah orang yang penuh pengertian dan lemah lembut.

Hari berlalu, hubungan kami semakin dekat, perasaan di antara kami semakin menguat, dan juga mendapat dukungan dari teman-teman. Pada  suatu hari di tahun kelulusan kami, dia berkata padaku, "Saya telah  mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi, tetapi di Amerika, dan  saya tidak tahu akan pergi berapa lama, kita bertunangan dulu, bolehkah?"  Mungkin dalam keadaan tidak rela melepas kepergiannya, saya mengangguk.

Oleh karena itu, sehari sesudah hari wisuda, hari itu menjadi hari  pertunangan kami berdua. Setelah bertunangan tidak berapa lama, bersamaan  dengan ucapan selamat dan perasaan berat hati dalam hatiku, dia  menaiki pesawat dan terbang menuju sebuah negara yang asing. Saya juga  mendapatkan sebuah pekerjaan yang bagus, memulai hari bekerja dari jam 9   pagi hingga jam 5 sore. Telepon internasional merupakan cara kami untuk tetap berhubungan dan melepas kerinduan. Suatu hari, sebuah hal yang naas terjadi pada diriku. Pagi hari, dalam  perjalanan menuju tempat kerja, sebuah taksi demi menghindari sebuah  anjing di jalan raya, mendadak menikung tajam.Tidak tahu lewat berapa lama saya pingsan. Saat siuman telah berada di  rumah sakit, dimana anggota keluarga menunggu mengelilingi tempat tidur  saya. Mereka lantas memanggil dokter. "Pa?" saya ingin memanggilnya tapi tidak ada suara yg keluar.  Mengapa? Mengapa saya tidak dapat memanggilnya? Dokter mendatangiku dan  memeriksa, suster menyuntikkan sebuah serum ke dalam diriku, mempersilahkan  yang lainnya untuk keluar terlebih dahulu. Ketika siuman kembali, yang terlihat adalah raut wajah yang sedih dari  setiap orang, sebenarnya apa yang terjadi. Mengapa saya tidak dapat  bersuara?  Ayah dengan sedihnya berkata, "Dokter bilang syaraf kamu mengalami luka,  untuk sementara tidak dapat bersuara, lewat beberapa waktu akan membaik."
"Saya tidak mau!" saya dengan berusaha memukul ranjang, membuka mulut  lebar-lebar berteriak, tapi hanya merupakan sebuah protes yang tidak  bersuara. Setelah kembali ke rumah, kehidupanku berubah. Suara telepon yang  didambakan waktu itu, merupakan suara yang sangat menakutkan sekarang ini.  Saya tidak lagi  keluar rumah, juga menjadi seorang yang menyia-nyiakan diri, ayah mulai  berpikir untuk pindah rumah. Dan dia? di belahan bumi yang lain, yang  diketahui hanyalah saya telah membatalkan pertunangan kami, setiap telepon  darinya tidak mendapatkan jawaban, setiap surat yang ditulisnya bagaikan  batu yang tenggelam ke dasar lautan.

Dua tahun telah berlalu, saya secara perlahan telah dapat keluar dari masa  yang gelap ini, memulai hidup baru, juga mulai belajar bahasa isyarat untuk  berkomunikasi dengan orang lain. Suatu hari, Xiao Cien memberitahu bahwa dia telah kembali, sekarang bekerja  sebagai seorang insinyur di sebuah perusahaan. Saya berdiam diri, tidak mengatakan apapun. Mendadak bel pintu berbunyi, berulang-ulang dan  terdengar tergesa-gesa. Tidak tahu harus berbuat apa, ayah menyeretkan  langkah kakinya yang berat, pergi membuka pintu.
Saat itu, di dalam rumah mendadak hening. Dia telah muncul, berdiri di  depan pintu rumahku. Dia mengambil napas yang dalam, dengan perlahan  berjalan ke hadapanku, dengan bahasa isyarat yang terlatih, dia berkata,  "Maafkan saya! Saya terlambat satu tahun baru menemuimu. Dalam satu tahun  ini, saya berusaha dengan keras untuk mempelajari bahasa isyarat, demi
untuk hari ini. Tidak peduli kamu berubah menjadi apapun, selamanya kamu  merupakan orang yang paling kucintai. Selain kamu, saya tidak akan  mencintai orang lain, marilah kita menikah!"
 
"Friends are angels who lift us to our feet when our wings have trouble  remembering how to fly." (Unknown, Friendship Quotation)
 

Kamis, 12 Desember 2013

Aceh Pemegang Saham Terbesar


H.M Amien Rais (1999)

Munir S.Si - Kalau boleh terus terang,Aceh ini salah satu daerah pemegang saham terbesar  di repubulik Indonesia . Maka sebagai pemegang saham terbesar , jika aceh menarik sahamnya , tentu RI guncang segungcangnya , apalagi kalau pemegang saham yang kecil-kecil pun ikut menjadi makmum, tentu kita mengucapkan, Innalillahi wa innalillahi rajiun buat Republik  Indonesia.

Kilas Singkat Hasan Tiro



Moh.Tiro

Munir - Moh Tiro Tanggal 25 September 1925 lahir dari pasangan Teungku Muhammad- Pocut Fatimah digampong Tanjong Pidie. Tahun 1931-1933 umur 6 (enam) tahun Sekolah di Madrasah (SR) di LamMeuulo Pidie. Tahun 1933-1939 umur 9 (sembilan) tahun sekolah di Madrasah Sa’adah Al-Abadiyah Pidie.tahun 1939-1942 umur 16 tahun Sekolah normal Islam Institute Bireun.Tahun 1945 umur 20 tahun Pengurus BPI di Lammeulo Pidie. Tahun 1946, 21 tahun wartawan Koran Semangat Merdeka di Banda Aceh. Tahun 1946-1948, umur  21 tahun Kuliah du Fakultas hokum UII di Yogyakarta. Tahun 1948 umur 23 tahun, Mendirikan PII cabang Aceh dan menerbitkan Buku Perang Aceh 1873-1927. Tahun 1949 umur 24 tahun Memadukan anggota KTN PBB ke Banda Aceh dan Mr Sjahfruddin Prawiranegara membawakan dia ke kutaradja. Tahun 1950 umur 25 tahun Kuliah di Universitas Columbia New York Amerika dan Bekerja di Markas PBB. Pada tanggal 1 September 1954, umur 29 mengirimkan surat protes kepada perdana menteri Mr.Ali Sastroamidjojo.Tahun 1954 September umur 29 tahun Perdana menteri mr Ali Sastroamidjojo mencabut paspor diplomatic Hasan Tiro, dan Teungku Muhammad Daud Beureueh mengangkat Hasan Tiro sebagai Duta Besar DI/TII di PBB.Tahun 1954 tanggal 7 September Umur 29 tahun Harian Sin Pon membuat berita Markas D.I di Amerika; Hasan Tiro kirim ultimatum ke PM Ali.Pada tahun 1954 tanggal 6 September umur 29 Harian Sin Pon memuat berita Tiro akan di keluarkan dari Amerika, tanggal 27 September tahun 1954 ditahan oleh jawatan Imigrasi New York, dan tanggal 30 September Harian Sin Pon memuat berita Moh.Tiro di tahan di Amerika, pada 6 oktober Harian Sin Pon juga  memuat berita Moh.Tiro akan menuduh RI di PBB.Tahun 1955 mengirim senjata ke DI/TII di aceh dan pada bulan maret Moh.Tiro mengajak belasan Negara untuk memboikot KAA. Tahun 1955-1959 umur 30 Moh.Tiro bertemu dengan Kahar Muzakkar. Pada Umur 33 menerbitkan buku Demokrasi untuk Indonesia dan bertemu dengan Perdana Menteri DI/TII Hasan Ali di Jenewa.

Sumber: Buku Aceh di Mata Dunia

Selasa, 19 Juni 2012

SAYA BELAJAR (munir syah putra yuja)


Saya belajar . . . . . . .
Bahwa saya tidak dapat memaksa orang lain untuk mencintai saya
Saya hanya dapat melakukan sesuatu untuk orang yang saya cintai

Saya belajar . . . . . . .
Bahwa butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun kepercayaan
Dan hanya beberapa detik saja untuk menghancurkannya

Saya belajar . . . . . . .
Bahwa sahabat terbaik selalu ada bersama saya Untuk dapat melakukan banyak hal Dan kami selalu selalu mempunyai waktu terbaik untuk berbagi rasa

Saya belajar . . . . . . . .
Bahwa orang yang saya adalah kira jahat
Justru adalah orang yang membangkitkan semangat hidup saya kembali Serta orang yang begitu perhatian sama saya

Saya belajar . . . . . . . .
Bahwa persahabatan sejati senantiasa bertumbuh ,Walaupun dipisahkan oleh jarak yang jauh Beberapa diantaranya menciptakan cinta yang sejati

Saya belajar .............
Bahwa jika seseorang tidak menunjukkan perhatian Sebagaimana yang saya inginkan Bukan berarti dia tidak tidak mencintai saya

Saya belajar . . . . . . .
Bahwa sebaik-baiknya pasangan itu Mereka pasti pernah melukai perasaan saya Dan untuk itu saya harus memaafkannya

Saya belajar . . . . . . .
Bahwa saya harus bisa mengampuni diri sendiri dan orang lain Jika tidak ingin dikuasai oleh perasaan bersalah terus menerus

Saya belajar . . . . . . .
Bahwa lingkungan dapat mempengaruhi kepribadian saya Namun saya harus bisa lebih bertanggung jawab Untuk apa yang telah saya lakukan

Saya belajar . . . . . . .
Bahwa dua manusia dapat melihat satu benda yang sama Tapi boleh jadi memiliki dua sudut pandang yang berbeda

Saya belajar . . . . . . . .
Tidak ada yang instant atau serba cepat didunia ini Semua membutuhkan proses dan pertumbuhan Kecuali bila saya ingin sakit hati . . . .

Saya belajar . . . . . . . .
Bahwa saya harus memilih Apakah menguasai sikap dan emosi Ataukah sikap dan emosi itu yang akan menguasai saya

Saya belajar . . . . . . . .
Bahwa saya punya hak untuk marah Tetapi itu bukan berarti Saya harus benci dan berlaku bengis pada orang lain.

Saya belajar . . . . . . . . .
Bahwa kata-kata manis tanpa tindakan Adalah saat perpisahan dengan seseorang Yang benar-benar sangat saya cintai

Saya belajar . . . . . . . . . .
Bahwa orang-orang yang saya kasihi Justru sering kali diambil segera Dari kehidupan saya

Love doesn't make the world go round. 
Love is what makes the ride worth while




Kamis, 03 April 2008

Mobilitas penduduk

MIGRASI DAN PEMBANGUNAN

LIM LIN LEAN

DETERMINAN MIGRASI:

Migrasi, seperti bentuk-bentuk bentuk demografik lainnya, dapat dipandang sebagai fenomena agregat/ makroatau dari perspektif individual. Untuk memahami hubungan antara migrasi dan pembangunan, maka pendekatan makrolah yang dapat memberikan suatu fokus yang relevan secara langsung.

Determinan makro dari migrasi

Pendekatan makro dalam migrasimencakup studi-studi mengenai pola dan tren migrasi dan ‘faktor-faktor makro’ penyebab yang berasosiasi dengan mobilitas penduduk. Faktor-faktor makro yang telah di identifikasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Faktor-faktor yang berkaitan dengan tempat

2. Faktor-faktor structural

3. Faktor-faktor ekonomi dan cultural

4. Faktor-faktor demografik

5. Faktor-faktor institusional dan yang berkaitan dengan kebijaksanaan

Faktor-faktor yang berkaitan dengan tempat

“Factor-faktor yang paling umum dianggap mempengaruhi migrasi adalah:

Karakteristik-kartakteristik dari tempat, yaitu faktor dan situasi ekstenal dari individudan sifatnya yang menjadi umum bagi sebagian orang yang tinggal di daerah yang samayang memberi kesempatan dan kepuasan sehingga suatu daerah lebih atau kurang gaya tariknya bagi satu individu disbanding tempat lainnya, tergantung pada serangkaiannilai tertentu dari individu.”( gardner, 1981, hal. 67 ).

Teori migrasi dari Lee (1966) memberikan suatu pandangan yang lebih komprehensif mengenai kekuatan-kekuatan yang menarik dan menolak pada daerah asal dan daerah tujuan. Lee, membangun teorinya berdasarkan hokum-hukun dasar migrasi dari revenstein (1885 dan 1889, suatu ringkasan pendek mengenai “hokum-hukum” migrasi revenstein, Todora, 1976: 15-16), meringkaskan keputusan bermigrasi dan proses migrasi yang meliputi:

1. Faktor-faktor daerah asal

2. Faktor-faktor daerah tujuan

3. Rintangan-rintangan antara

4. Faktor-faktor pribadi

Dalam suatu diagram Lee menghipotensikan bahwa setiap daerah asal dan daerah tujuan memiliki serangkaian factor-faktor positif dan negative yang menarik dan menolak para migrant (kekuatan yang bertanda nol pada diagram adalah factor-faktor yang dalam perhitungan merupakan kekuatan yang tidak menarik ataupun menolak). Akibat-akibat yang ditimbulkan setiap kekuatan ini akan bervariasi sesuai dengan karakteristik individudan kepribadian dari orang yang berbeda. Semakin besar perbedaan antara factor positif dan negative, semakin tinggi pula probabillitas untuk bermigrasi,

Gambar: Fakto-r-faktor daerah asal dan tujuan serta rintangan-rtintangan antara dalam migrasi.

Sementara gagasan rintangan-rintangan antara di utamakan dalam teori Lee, Stouffer (1940 dan 1960) mengusulkan peranan kesempatan-kesempatan antara, bahwa perpindahan penduduk dalam ruang dapat dihubungkan dengan jumlah kesempatan yang tersedia pada suatu jarak tertentu.

Sebaliknya, dari model gravitasi (Zipf, 1946; Ter Heide, 1963; dan Alonso, 1965) berhipotensis bahwa migrasi berbanding lurus dengan besar jumlah penduduk daerah asal dan daerah tujuan dan berbaning terbalik dengan jarak.

Dari perspektif dorong –tarik dan dalam hubungannya dengan factor makro yang berhubungan dengan tempat, kemudian diperkenalkan dengan konsep guna tempat (pleace utility). Wolpert (1965) mendefinisikan guna tempat “sebagai guna komposit bersih yang diperoleh dari integrasi individu dalam suatu posisi dalam ruang.

Faktor-faktor structural

Faktor-faktor Ekonomi dan Sosio Cultural

Pada dasarnya terdapat kesempatan umum yang didukung oleh buktu-bukti empiris bahwa factor-faktor ekonomi adalah penyabab primer terhadap migrasi-migrasi berhubungan dengan prospek-prospek akan mobilitas jabatan/ social, upah yang lebih tinggi, kesempatan kerja yang lebih banyak, dll. Factor sosio cultural meliputi persediaan infra struktur social, seperti fasilitas-fasilitas pendidikan dan kesehatan.

Pryor (1975:33-35) menyifatkan mobilitas spasial autogenic yakni yang bersifat sukarela dan rasional terdiri dari factor-faktor ekonomi, stimuli institusional dan politik. Mobilitas alogenik atau tidak sukarela dihubungkan dengan kekuatan-kekuatan institusional dan politik, dan factor lingkungan termasuk gempa bumi,banjir dan bencana alam lainnya.

Salah satu dari teori-teori yang paling komprehensif mengenai konteks social dan lingkungan dari migrasi di Negara-negara berkembang adalah yang disajikan oleh Mabogunje (1970) didalam kerangka kerja “ teori system umum” system migrasi dipandanag sebagai terpengaruh oleh lingkungan ekonomi, social, politik, dan teknologi.

Faktor-faktor Demografik

Faktor-faktor demografik yang telah dinyatakan sebagai mempengaruhi migrasi meliputi besar keluarga, rasio jenis kelamin masyarakat, suatu ketidak seimbangan penduduk pada umur kawin, dan distribusi umur dengan tingkat dependensi yang tinggi.

Faktor-faktor Institusional dan Kebijaksanaan

Tekanan lain dari pendekatan makro seharusnya pada dampak kebijakan-kabijakan pemerintah terhadap daya tarik relative berbagai tempat dan pada sifat serta besarnya arus migrasi.

Di Negara-negara yang sedang berkambang, perhatian akan redistribusi penduduk internal dan kebijaksanaan-kebijaksanaan migrasi kerap kali sangat erat berkaitan denagn perhatian terhadap personal pembangunan regiaonal, urbanisasi yang cepat, dantimbulnya kota-kota utama.

Karena pada umumnya dikenal bahwa berbagai kebijakan dan tindakan dapat berpengaruh langsung atau tak langsung terhadap migrasi, maka diusulkan suatu taksonomi (Chan, 1981 a:407-408; Lim,1981 a:131-133) sebagai berikut:

1. kebijaksanaan-kabujaksanaan migrasi yang lansung (migration directed policies), yaitu kebijaksanaan-kebijaksanaan yang secara actif digunakan untuk menggerakkan perpindaha orang-orang atau dilaksanakan untuk menghanbat calon-calon migrant.

2. kebijaksanaan-kebijaksanaan non migrasi( non migration directed policies), adalah kebijakan-kebijakan yang diarahkan pada tujuan-tujuan sosio ekonomi tetapi memiliki pengaruh-pengaruh yang diketahui atau yang tidak diketahui terhadap redistribusi penduduk.

Determinasi-determinasi Mikro dari Migrasi

Determinan-determinan tingkat mikro mengenai migrasi dilihat dalam batas motivasi-motivasi atau pengaruh-pengaruh subyektif terhadap keputusan berpindah atau tidak. Suatu usaha yang mempunyai tujuan dan rasional untuk mendapatkan suatu lokasi untuk bertempat tinggal dan bekerja.

Pendekatan-pendekatan mikro yang utama terdiri dari dua tipe:

1. Model ekonomi tentang modal manusia dan varian-variannya.

2. model-model pangambilan keputusan atau model-model motivasi.

Model-model Ekonomi mengenai modal manusia:

Model migrasi Todaro menyoroti motif-motif ekonomi spesifik untuk migrasi dan menghipotensiakn bahwa seorang calon migrant memaksimumkan permintaan bersih yang diharapkan ( expected netgains) dari migrasi. Penerimaan bersih yang diharapkan dilihat sebagai selisih pendapatan riel antara kesempatan kerja di desa dan di kota serta probabilitas mendapatkan suatu pekerjaan di kota.

Gagasan mengenai pendapatan riel seumur hidup (lifetime real income) ditunjukkan untuk menunjukkan bahwa kemanfaatan-kemanfaatan dari migrasi (dan barangkali biaya-biaya) bertambah sekama satu periode waktu tertentu. Karena investasi melekat pada manusia, maka ia merupakan investasi pada modal manusia. Maka pada dasarnya, pendekatan ekonomi pada modal manusia memandang migrasi sebagai hasil perhitungan biaya manfaat oleh individu.

Model-model Pengambilan Keputusan atau Motivasi

Model-model pengambilan keputusan berfokus pada motivasi-motivasi untuk bermigrasi. Satu volume yang baru mengenai pengambilan keputusan bermigrasi ( De Jong dan Gardner, 1981) merincikan motif-motif sebagai suatu penyebab utama ( proximate causes) dari niatan berpindah. Secara subyektif, bila individu memperhitungkan rasio biaya manfaat, tingkat tekanan dan kepuasan serta nilai dan harapan-harapan untuk berpindah atau tidak berpindah, maka konsep yang mendasarinya adalah motivasi.

Motivasi migrasi yang umumnya dikenal telah dikategorikan atas maksimisasi penerimaan ekonomi actual atau yang diharapkan mobilitas social dan status social yang dicapai, kepuasan bertempat tinggal, afiliasi dengan keluarga dan teman-taman dan preferensi gaya hidup yang dicapai.

Model nilai harapan (the value expectancy model) merupakan varian mutakhir dari pendekatanpengambilan keputusan. De Jong dan Fawcett (1981) menerapkan suatu model kognitif psikologis (psychological cognitive modal): yang berhubungan dengan peristiw-peristiwa mental dengan suatu kerangka kerja esensial terhadap migrasi. Mereka menerima bahwa motivasi bermigrasi tergantung pada penjumlahan hasil kali nilai harapan: yaitu apakah satu individu akan motivasi untuk bermigrasi akan terpengaruh oleh harapan bahwa perpindahan itu akan mewujutkan tujuan-tujuan tertentu yang secara pribadi berharga. Dimensi-dimensi nilai utama dari individu yang dihubungkan dengan migrasi di identifikasikan oleh De Jong dan Fawcett terdiri dari kemakmuran (wealth) status kenyamanan (comfort), stimulasi (stimulation), otonomi (autonomi), afiliasi (affiliation), dan moralitas (morality)

MIGRASI DAN PROSES PEMBANGUNAN

Hipotensis yang paling terkenal mengenai hubungan antara tingkat pembangunan ekonomi, tingkat moderenisasi wilayah dan karakteristik-harakteristik spasial dan structural dari migrasi internal adalah transisi mobilitas ( mobility transition) dari Zelineky (1971:221-222) dia mempunyai kesan bahwa “ ada keteraturan yang berpola pada perkembangan mobilitas pribadi sepanjang ruang-waktu dan keteraturan-keteraturan ini terdiri dari suatu komponen esensial dari proses pembangunan.

Zelinsky melihat mobilitas dalam pandangan luas yang mencakup migrasi tempat tinggal dan berbagai bentuk sirkulasi (perpindahan jangka pendek, berulang-ulang dan sinklis) Hipotensi Zelinsky dapat dielaborasi kedalamdelapan pernyataan yang saling berhubungan:

1. Karena suatu masyarakat mengalami proses moderenisasi, maka selalu terjadi suatu transisi dari mobilitas fisikal dan social yang sangat terbatas menuju tingkat perpindahan yang jauh lebih tinggi.

2. Rangkaian transisi mobilitas sangat berparalel dengan transisi demografik (fertilitas dan mortalitas), dan suatu interaksi tingkat tinggi akan tinbul diantara semua proses.

3. Ada urutan utama perubahan-perubahan baik dalam bentuk maupun intensitas mobilitas spasial pada berbagai tahapan dari transisi.

4. Ada perubahan yang konkuren baik pada bentuk maupun intensitas mobilitas social dan pada perpindahan informasi dan pada kondisi-kondisiterutama calon migrant dapat melakukan pilihan untuk berpindah tempat dalam ruang social atau mengeksploitasi suatu arus informasi superior tanpa suatu keharusan perpindahan tempat.

5. Pada suatu tempat generalisasi yang cukup tinggi, kondisi-kondisi mobilitas membentuk pola-pola koheren yang berkembang kedalam menurut waktu sebagai periode yang berurutan dan ke arah luar melalui ruang membentuk zona-zona konsentrik yang berasal dari titik-titik pertumbuhan yang berhasil.

6. Transisi mobilitas semakin cepat perubahannya dalam ruang dan waktu, karena akumulasi dan intensifikasi yang langgeng dari faktor-faktor kausatif dan juga karena transfer informasi dan hasil-hasil dari wilayah-wilayah yang lebih maju kewilayah yang kurang maju.

7. Saat permulaan transisi mobilitas merupakan suatu factor penting, karena saat permulaan tersebut cenderung memodifikasi pola-pola dasar dari perubahan.

8. Bukti-bukti menunjukkan bahwa gerak-maju (progression) dari tahap-tahap perubahan bersifat “irreversible).

Terdapat liam tahapan transisi mobilitas yang dipostulatkan sebagai karakteristik dari lima tahapan pambangunan sosio-ekonomi dari suatu masyarakat (lihat ringkasan yang di sajikan dalam konsinski dan Prothero, 1975:11 dan Pryir, 1975:28):

1. Masyarakat transisi awal pra moderen menunjukkan sedikit perpindahan tempat tinggal dan sirkulasi yang terbatas, jumlah penduduk relative tetap stabil.

2. Masyarakat transisi awal mengalami kenaikan fertilitas dengan cepat, disertai migrasi desa-kota yang besar-besaran, kolonisasi daerah-daerah rintisan didalam negeri dan di luar negeri dan sirkulasi yang meningkat.

Pada masyarakat akhir transisi, bila tingkat pertambahan alami berangsur-angsur menurun, tipe-tipe perpindahan tradisional seperti migrasi desa-kota, kolonisasi dan emigrasi juga menurun, tetapai