MIGRASI DAN PEMBANGUNAN
LIM LIN LEAN
DETERMINAN MIGRASI:
Migrasi, seperti bentuk-bentuk bentuk demografik lainnya, dapat dipandang sebagai fenomena agregat/ makroatau dari perspektif individual. Untuk memahami hubungan antara migrasi dan pembangunan, maka pendekatan makrolah yang dapat memberikan suatu fokus yang relevan secara langsung.
Determinan makro dari migrasi
Pendekatan makro dalam migrasimencakup studi-studi mengenai pola dan tren migrasi dan ‘faktor-faktor makro’ penyebab yang berasosiasi dengan mobilitas penduduk. Faktor-faktor makro yang telah di identifikasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Faktor-faktor yang berkaitan dengan tempat
2. Faktor-faktor structural
3. Faktor-faktor ekonomi dan cultural
4. Faktor-faktor demografik
5. Faktor-faktor institusional dan yang berkaitan dengan kebijaksanaan
Faktor-faktor yang berkaitan dengan tempat
“Factor-faktor yang paling umum dianggap mempengaruhi migrasi adalah:
Karakteristik-kartakteristik dari tempat, yaitu faktor dan situasi ekstenal dari individudan sifatnya yang menjadi umum bagi sebagian orang yang tinggal di daerah yang samayang memberi kesempatan dan kepuasan sehingga suatu daerah lebih atau kurang gaya tariknya bagi satu individu disbanding tempat lainnya, tergantung pada serangkaiannilai tertentu dari individu.”( gardner, 1981, hal. 67 ).
Teori migrasi dari Lee (1966) memberikan suatu pandangan yang lebih komprehensif mengenai kekuatan-kekuatan yang menarik dan menolak pada daerah asal dan daerah tujuan. Lee, membangun teorinya berdasarkan hokum-hukun dasar migrasi dari revenstein (1885 dan 1889, suatu ringkasan pendek mengenai “hokum-hukum” migrasi revenstein, Todora, 1976: 15-16), meringkaskan keputusan bermigrasi dan proses migrasi yang meliputi:
1. Faktor-faktor daerah asal
2. Faktor-faktor daerah tujuan
3. Rintangan-rintangan antara
4. Faktor-faktor pribadi
Dalam suatu diagram Lee menghipotensikan bahwa setiap daerah asal dan daerah tujuan memiliki serangkaian factor-faktor positif dan negative yang menarik dan menolak para migrant (kekuatan yang bertanda nol pada diagram adalah factor-faktor yang dalam perhitungan merupakan kekuatan yang tidak menarik ataupun menolak). Akibat-akibat yang ditimbulkan setiap kekuatan ini akan bervariasi sesuai dengan karakteristik individudan kepribadian dari orang yang berbeda. Semakin besar perbedaan antara factor positif dan negative, semakin tinggi pula probabillitas untuk bermigrasi,
Gambar: Fakto-r-faktor daerah asal dan tujuan serta rintangan-rtintangan antara dalam migrasi.

Sementara gagasan rintangan-rintangan antara di utamakan dalam teori Lee, Stouffer (1940 dan 1960) mengusulkan peranan kesempatan-kesempatan antara, bahwa perpindahan penduduk dalam ruang dapat dihubungkan dengan jumlah kesempatan yang tersedia pada suatu jarak tertentu.
Sebaliknya, dari model gravitasi (Zipf, 1946; Ter Heide, 1963; dan Alonso, 1965) berhipotensis bahwa migrasi berbanding lurus dengan besar jumlah penduduk daerah asal dan daerah tujuan dan berbaning terbalik dengan jarak.
Dari perspektif dorong –tarik dan dalam hubungannya dengan factor makro yang berhubungan dengan tempat, kemudian diperkenalkan dengan konsep guna tempat (pleace utility). Wolpert (1965) mendefinisikan guna tempat “sebagai guna komposit bersih yang diperoleh dari integrasi individu dalam suatu posisi dalam ruang.
Faktor-faktor structural
Faktor-faktor Ekonomi dan Sosio Cultural
Pada dasarnya terdapat kesempatan umum yang didukung oleh buktu-bukti empiris bahwa factor-faktor ekonomi adalah penyabab primer terhadap migrasi-migrasi berhubungan dengan prospek-prospek akan mobilitas jabatan/ social, upah yang lebih tinggi, kesempatan kerja yang lebih banyak, dll. Factor sosio cultural meliputi persediaan infra struktur social, seperti fasilitas-fasilitas pendidikan dan kesehatan.
Pryor (1975:33-35) menyifatkan mobilitas spasial autogenic yakni yang bersifat sukarela dan rasional terdiri dari factor-faktor ekonomi, stimuli institusional dan politik. Mobilitas alogenik atau tidak sukarela dihubungkan dengan kekuatan-kekuatan institusional dan politik, dan factor lingkungan termasuk gempa bumi,banjir dan bencana alam lainnya.
Salah satu dari teori-teori yang paling komprehensif mengenai konteks social dan lingkungan dari migrasi di Negara-negara berkembang adalah yang disajikan oleh Mabogunje (1970) didalam kerangka kerja “ teori system umum” system migrasi dipandanag sebagai terpengaruh oleh lingkungan ekonomi, social, politik, dan teknologi.
Faktor-faktor Demografik
Faktor-faktor demografik yang telah dinyatakan sebagai mempengaruhi migrasi meliputi besar keluarga, rasio jenis kelamin masyarakat, suatu ketidak seimbangan penduduk pada umur kawin, dan distribusi umur dengan tingkat dependensi yang tinggi.
Faktor-faktor Institusional dan Kebijaksanaan
Tekanan lain dari pendekatan makro seharusnya pada dampak kebijakan-kabijakan pemerintah terhadap daya tarik relative berbagai tempat dan pada sifat serta besarnya arus migrasi.
Di Negara-negara yang sedang berkambang, perhatian akan redistribusi penduduk internal dan kebijaksanaan-kebijaksanaan migrasi kerap kali sangat erat berkaitan denagn perhatian terhadap personal pembangunan regiaonal, urbanisasi yang cepat, dantimbulnya kota-kota utama.
Karena pada umumnya dikenal bahwa berbagai kebijakan dan tindakan dapat berpengaruh langsung atau tak langsung terhadap migrasi, maka diusulkan suatu taksonomi (Chan, 1981 a:407-408; Lim,1981 a:131-133) sebagai berikut:
1. kebijaksanaan-kabujaksanaan migrasi yang lansung (migration directed policies), yaitu kebijaksanaan-kebijaksanaan yang secara actif digunakan untuk menggerakkan perpindaha orang-orang atau dilaksanakan untuk menghanbat calon-calon migrant.
2. kebijaksanaan-kebijaksanaan non migrasi( non migration directed policies), adalah kebijakan-kebijakan yang diarahkan pada tujuan-tujuan sosio ekonomi tetapi memiliki pengaruh-pengaruh yang diketahui atau yang tidak diketahui terhadap redistribusi penduduk.
Determinasi-determinasi Mikro dari Migrasi
Determinan-determinan tingkat mikro mengenai migrasi dilihat dalam batas motivasi-motivasi atau pengaruh-pengaruh subyektif terhadap keputusan berpindah atau tidak. Suatu usaha yang mempunyai tujuan dan rasional untuk mendapatkan suatu lokasi untuk bertempat tinggal dan bekerja.
Pendekatan-pendekatan mikro yang utama terdiri dari dua tipe:
1. Model ekonomi tentang modal manusia dan varian-variannya.
2. model-model pangambilan keputusan atau model-model motivasi.
Model-model Ekonomi mengenai modal manusia:
Model migrasi Todaro menyoroti motif-motif ekonomi spesifik untuk migrasi dan menghipotensiakn bahwa seorang calon migrant memaksimumkan permintaan bersih yang diharapkan ( expected netgains) dari migrasi. Penerimaan bersih yang diharapkan dilihat sebagai selisih pendapatan riel antara kesempatan kerja di desa dan di kota serta probabilitas mendapatkan suatu pekerjaan di kota.
Gagasan mengenai pendapatan riel seumur hidup (lifetime real income) ditunjukkan untuk menunjukkan bahwa kemanfaatan-kemanfaatan dari migrasi (dan barangkali biaya-biaya) bertambah sekama satu periode waktu tertentu. Karena investasi melekat pada manusia, maka ia merupakan investasi pada modal manusia. Maka pada dasarnya, pendekatan ekonomi pada modal manusia memandang migrasi sebagai hasil perhitungan biaya manfaat oleh individu.
Model-model Pengambilan Keputusan atau Motivasi
Model-model pengambilan keputusan berfokus pada motivasi-motivasi untuk bermigrasi. Satu volume yang baru mengenai pengambilan keputusan bermigrasi ( De Jong dan Gardner, 1981) merincikan motif-motif sebagai suatu penyebab utama ( proximate causes) dari niatan berpindah. Secara subyektif, bila individu memperhitungkan rasio biaya manfaat, tingkat tekanan dan kepuasan serta nilai dan harapan-harapan untuk berpindah atau tidak berpindah, maka konsep yang mendasarinya adalah motivasi.
Motivasi migrasi yang umumnya dikenal telah dikategorikan atas maksimisasi penerimaan ekonomi actual atau yang diharapkan mobilitas social dan status social yang dicapai, kepuasan bertempat tinggal, afiliasi dengan keluarga dan teman-taman dan preferensi gaya hidup yang dicapai.
Model nilai harapan (the value expectancy model) merupakan varian mutakhir dari pendekatanpengambilan keputusan. De Jong dan Fawcett (1981) menerapkan suatu model kognitif psikologis (psychological cognitive modal): yang berhubungan dengan peristiw-peristiwa mental dengan suatu kerangka kerja esensial terhadap migrasi. Mereka menerima bahwa motivasi bermigrasi tergantung pada penjumlahan hasil kali nilai harapan: yaitu apakah satu individu akan motivasi untuk bermigrasi akan terpengaruh oleh harapan bahwa perpindahan itu akan mewujutkan tujuan-tujuan tertentu yang secara pribadi berharga. Dimensi-dimensi nilai utama dari individu yang dihubungkan dengan migrasi di identifikasikan oleh De Jong dan Fawcett terdiri dari kemakmuran (wealth) status kenyamanan (comfort), stimulasi (stimulation), otonomi (autonomi), afiliasi (affiliation), dan moralitas (morality)
MIGRASI DAN PROSES PEMBANGUNAN
Hipotensis yang paling terkenal mengenai hubungan antara tingkat pembangunan ekonomi, tingkat moderenisasi wilayah dan karakteristik-harakteristik spasial dan structural dari migrasi internal adalah transisi mobilitas ( mobility transition) dari Zelineky (1971:221-222) dia mempunyai kesan bahwa “ ada keteraturan yang berpola pada perkembangan mobilitas pribadi sepanjang ruang-waktu dan keteraturan-keteraturan ini terdiri dari suatu komponen esensial dari proses pembangunan.
Zelinsky melihat mobilitas dalam pandangan luas yang mencakup migrasi tempat tinggal dan berbagai bentuk sirkulasi (perpindahan jangka pendek, berulang-ulang dan sinklis) Hipotensi Zelinsky dapat dielaborasi kedalamdelapan pernyataan yang saling berhubungan:
1. Karena suatu masyarakat mengalami proses moderenisasi, maka selalu terjadi suatu transisi dari mobilitas fisikal dan social yang sangat terbatas menuju tingkat perpindahan yang jauh lebih tinggi.
2. Rangkaian transisi mobilitas sangat berparalel dengan transisi demografik (fertilitas dan mortalitas), dan suatu interaksi tingkat tinggi akan tinbul diantara semua proses.
3. Ada urutan utama perubahan-perubahan baik dalam bentuk maupun intensitas mobilitas spasial pada berbagai tahapan dari transisi.
4. Ada perubahan yang konkuren baik pada bentuk maupun intensitas mobilitas social dan pada perpindahan informasi dan pada kondisi-kondisiterutama calon migrant dapat melakukan pilihan untuk berpindah tempat dalam ruang social atau mengeksploitasi suatu arus informasi superior tanpa suatu keharusan perpindahan tempat.
5. Pada suatu tempat generalisasi yang cukup tinggi, kondisi-kondisi mobilitas membentuk pola-pola koheren yang berkembang kedalam menurut waktu sebagai periode yang berurutan dan ke arah luar melalui ruang membentuk zona-zona konsentrik yang berasal dari titik-titik pertumbuhan yang berhasil.
6. Transisi mobilitas semakin cepat perubahannya dalam ruang dan waktu, karena akumulasi dan intensifikasi yang langgeng dari faktor-faktor kausatif dan juga karena transfer informasi dan hasil-hasil dari wilayah-wilayah yang lebih maju kewilayah yang kurang maju.
7. Saat permulaan transisi mobilitas merupakan suatu factor penting, karena saat permulaan tersebut cenderung memodifikasi pola-pola dasar dari perubahan.
8. Bukti-bukti menunjukkan bahwa gerak-maju (progression) dari tahap-tahap perubahan bersifat “irreversible).
Terdapat liam tahapan transisi mobilitas yang dipostulatkan sebagai karakteristik dari lima tahapan pambangunan sosio-ekonomi dari suatu masyarakat (lihat ringkasan yang di sajikan dalam konsinski dan Prothero, 1975:11 dan Pryir, 1975:28):
1. Masyarakat transisi awal pra moderen menunjukkan sedikit perpindahan tempat tinggal dan sirkulasi yang terbatas, jumlah penduduk relative tetap stabil.
2. Masyarakat transisi awal mengalami kenaikan fertilitas dengan cepat, disertai migrasi desa-kota yang besar-besaran, kolonisasi daerah-daerah rintisan didalam negeri dan di luar negeri dan sirkulasi yang meningkat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar